Jumat, 30 Januari 2015

KOMPONENS PROSES BELAJAR


Komponen-komponen proses belajar mengajar dan pola interaksi dalam pembelajaran
A.    Komponen-komponen proses belajar mengajar
Persoalan pertama berhubungan dengan tujuan pengajaran, persoalan kedua berbicara tentang materi atau bahan pengajaran, persoalan ketiga berhubungan dengan metode dan alat yang digunakan dalam pengajaran, dan persoalan keempat berkenaan dengan penilaian dalam proses pengajaran.
Keempat persoalan (tujuan, bahan, metode, dan alat serta penilaian) menjadi komponen utama yang harus dipenuhi dalam proses belajar mengajar. Keempat komponen tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi tidak saling berhubungan dan saling pengaruh mempengaruhi (inter-relasi).
Tujuan dalam proses belajar mengajar merupakan komponen pertama yang harus diterapkan dalam proses pengajaran dan berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran. Tujuan merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki siswa setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran. Isi tujuan pada hakikatnya adalah hasil belajar yang diharapkan. Metode dan alat berfungsi sebagai jembatan atau media transformasi pelajaran terhadap tujuan yang ingin dicapai.
Penilaian berperan sebagai barometer untuk mengukur tercapai tidaknya tujuan. Fungsi penilaian pada dasarnya untuk mengukur tujuan.
Maka dapat disimpulkan bahwa pengajaran adalah suatu komponen yang merupakan satu kesatuan sebagai suatu koordinasi yang saling berkaitan dalam rangka mencapai tujuan. Keempat komponen tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan dalam pembelajaran. Itulah yang disebut pengajaran sebagai sistem.
B.     Pola-Pola Interaksi dalam Pembelajaran
            Setiap bentuk interaksi, baik interaksi sosial maupun interaksi edukatif, akan senantiasa berhubungan dengan masalah komunikasi. Komunikasi dan interaksi merupakan kegiatan manusia sesuai dengan naluri yang selalu ingin berhubungan satu sama lain dengan berinteraksi dan saling membutuhkan.
                        Dalam setiap proses interaksi tersebut , terjadi dalam ikatan situasi, tidak dalam alam hampa. Diantara berbagai jenis situasi itu terdapat satu jenis situasi khusus yaitu situasi pendidikan atau situasi edukatif, yaitu onteraksi yang berlangsung dalam ikatan tujuan ppendidikan.(Surahmad,1986,7).
            Ciri-ciri interaksi pembelajaran menurut A.M Sardiman (1994) yang mengutip pendapat Edi Suardi dalam bukunya, Pedagogik, yaitu sebagai berikut:
1.      Interaksi pembelajaran memiliki tujuan, yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu, dengan mendapatkan siswa sebagai pusat perhatian.
2.      Ada suatu prosedur (jalannya interaksi), perlu adanya prosedur yang sistematis dan relevan.
3.      Interaksi pembelajaran ditandai dengan satu garapan materi khusus. Materi harus disusun sedemikian rupa sehingga cocok untuk mencapai tujuan yang telah diterapkan.
4.      Ditandai dengan adanya aktivias siswa.
5.      Guru sebagai pembimbing dalam interaksi belajar mengajar, dalam hal ini guru harus bisa menghidupkan dan memberi motivasi agar terjadi proses interaksi yang kondusif.
6.      Di dalam interaksi belajarmengajar, membutuhkan disiplin.
7.      Ada batas waktu. Artinya suatu tempo kapan tujuan telah ditentukan itu harus dicapai/tercapai.
8.      Adanya unsur penilaian.
Dengan melihat ciri-ciri tersebut di atas, maka interaksi belajar mengajar atau  pembelajaran mengandung arti adanya kegiatan interaksi dari tenaga pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di satu pihak, dengan warga belajar (siswa atau subyek belajar), yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain, yaitu guru sebagai pengajar merencanakan dan melaksanakan pengajaran yang tercermin dalam  tujuan pengajaran yang telah dirumuskannya, dan siswa sebagai subyek belajar yang diharapkan mengalami perubahan perilaku akibat interaksi pembelajaran tersebut, baik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan, maupun sikap.
A.    Pola Interaksi dalam Belajar Mengajar
Pola-pola interaksi yang dapat digunakan untuk mengembangkan interaksi dinamis antara guru dengan siswa adalah sebagai berikut:
1.      Pola interaksi satu arah
Dalam pola ini, guru mempumyai otoritas yang mutlak, artinya gurulah yang berperan sebagai pemberi aksi dan siswa berperan sebagai penerima aksi. Pola interaksi ini kebanyakan didominasi oleh metode ceramah saja. Dampak negatif yaitu akibatnya potensi siswa kurang bisa berkembang, dan akan menimbulkan verbalisme.
2.      Pola interaksi dua arah
Dalam pola jenis ini, antara guru dengan siswa dapat berperan sama, yakni pemberi aksi dan penerima aksi. Metode yang sering digunakan dalam proses pembelajaran dengan interaksi jenis ini adalah metode tanya jawab.
3.      Pola interaksi multi arah
Pola interaksi ini tidak hanya melibatkan interaksi dinamais antar guru dengan siswa, tetapi juga bisa melibatkan interaksi dinamais antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Metode yang paling tepat untuk pola interaksi jenis ini adalah metode diskusi dan simulasi.
Dalam metode ini, peran guru adalah juga sebagai pemimpin diskusi, di mana ada tiga peran seorang pemimpin dalam diskusi ini antara lain:
a.       Pemimpin sebagai pengatur.
b.      Pemimpin sebagai dinding penangkis.
c.       Pemimpin sebagai petunjuk jalan.

Dari ketiga interaksi  tersebut, maka jenis yang terakhir inilah yang lebih tepat dengan sistem pembelajaran modern karena sifat pembelajaran yang lebih memanusiakan manusia, artinya lebih memandang siswa bukan sebagai obyek tapi sebagaisubyek belajar.

B.     Faktor-Faktor yang Harus Dipertimbangkan dalam Menentukan Pola-Pola Interaksi dalam Proses Belajjar Mengajar.

Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan pola interksi adalah sebagai berikut;
1.      Tujuan yang ingin dicapai
Faktor tujuan ini sangat menentukan pola interaksi ini, sebab semua tujuan pembelajaran itu menuntut partisipasi aktif secara optimal dari pihak siswa.
2.      Sifat bahan pelajaran
Menentukan pola interaksi mana yang harus digunakan dalam proses pembelajaran.
3.      Sumber belajar
4.      Karakteristik kelas
Artinya, banyak sedikitnya jumlah siswa yang belajar juga amat menentukan pola interaksi ini sebab makin banyak banyak/besar jumlah siswa yang harus dilayani guru dalam satu kelas,semakin rendah kualitas pembelajaran, demikian sebaliknya (Sudjana, 1989 : 42 ).
5.      Kemampuan guru
Artinya bagaimana guru itu memimpin belajar, mengomunikasikan bahan pelajaran, dan menilai hasil belajar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar