MANAJEMEN HUMAS DI SEKOLAH
A.
Manajemen Humas di sekolah
1.
Pengertian Manajemen
Setiap
organisasi memerlukan manjaemen. Manajemen berfungsi untuk mengatur aktivitas
seluruh elemen dalam suatu lembaga. Oleh karena itu, dalam proses manjemen
diperlukan perencanaan,pengorganisasian, penganggaran, kepemimpinan, dan
pengendalian.
Pengertian
manajemen telah banyak dibahas oleh para ahli. Antara satu dengan yang lain
pendapat James F. Stoner (1982) yang di kutip oleh Handoko (1993:3) menyatakan
bahwa manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengawasan para anggota dan sumber daya lainnya. Di sini James F. Stoner
menekankan bahwa manajemen bertitik berat pada proses dan sistem.
Begitu juga,
O.R. Terry, yang di kutip oleh Hadi (1990:2) menyatakan bahwa manajemen adalah
usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan keahlian orang
lain. Dalam hal ini Terry tidak menjelaskan unsur-unsur yang ada dalam proses
pencapaian tujuan dalam manajemen.
Sedangkan
menurut Sulistyorini (2009 : 11) menyatakan bahwa manjemen adalah kegiatan
seseorang dalam mengatur organisasi, lembaga atau sekolah yang bersifat manusia
maupun non manusia, sehingga tujuan organisasi, lembaga atau sekolah dapat
tercapai secara efektif dan efesien.
Setelah
menelaah dari tiga pengertian tentang manajemen penulis menyimpulkan bahwa
manajemen adalah
“Segala kegiatan yang dilakukan oleh satu maupun lebih dari dua orang maupun kelompok kecil yang memiliki
tujuan suatu organisasi baik dalam suatu lembaga sehingga tercapainya suatu
tujuan organisasi yang tercapai dengan efektif dan efesien dengan upaya-upaya
memanfaatkan sumber daya yang ada.”
2.
Fungsi manajemen
fungsi manajemen pada dasarnya harus dilaksanakan
oleh setiap manajer secara berurutan. Supaya proses manajerial dapat berjalan
lancar, empat fungsi manajemen harus dilaksanakan dengan baik. Adapun empat
fungsi tersebut adalah planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian),
actuating (pengarahan), controling (pengendalian), dan evaluasi (menganalisa).
a)
Perencanaan (Planning)
Perencanaan
merupakan fungsi yang pertama dan terpenting diantara fungsi manajemen yang
lain. Menurut Rusady Ruslan (2003:2) perencanaan meliputi “penetapan tujuan dan
standar, penentuan aturan dan prosedur, dan pembuatan rencana serta ramalan
(prediksi) apa yang akan terjadi. Sedang menurut T. Hani Handoko (2001:77-78),
perencanaan adalah pemilihan sekumpulan kegiatan atau pemutusan selanjutnya apa
yang harus dilakukan, kapan, bagaimana dan oleh siapa.
Berdasarkan dua
pendapat tersebut, dapat ditarik pengertiaan bahwa perencanaan merupakan suatu
keputusan yang dibuat untuk pengarahan kepada tujuan yang akan dicapai sesaui
kebutuhan organisasi dan keputusan tersebut dijalankan dengan ketetapan yang
menjadi pedoman.
Untuk membantu
proses perencanaan, sebagaimana yang dikutip oleh George R. Terry (1993:67-68)
ada beberapa pendekatan yang digunakan. Salah satunya adalah dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang dikenal dengan
lima (5 W dan 1 H ) yaitu: Why, What, Where, When, Who, dan HoW.
Artinya :
1.
Why (mengapa) harus
dikerjakan ? Pertanyaan tersebut mengungkapkan urgensi dari pekerjaan tersebut.
2.
What (apa) yang
diperlukan ? jawabannya menunjukan jenis dan jumlah kegiatan berikut peralatan
yang dibutuhkan.
3.
Where (dimana) akan
dikerjakan ? disini ditekankan pada pertimbangan tempat, artinya pada lokasi
mana pekerjaan tersebut dikerjakan.
4.
When (kapan) akan
dikerjakan ? di sini ditekankan pada pertimbangan waktu kapan akan dimulai dan
berakhirnya setiap bagian pekerjaan. Dengan jawaban pertanyaan tersebut dapat
tersusun jadwal dan kegiatan operasional.
5.
Who (siapa) yang
akan mengerjakan ? pertanyaan tersebut bertujuan untuk mengetahui jenis
ketrampilan dari pengalaman yang ada untuk dapat melaksanakan pekerjan yang
sudah direncanakan dengan memuaskan.
6.
How (bagaimana)
melaksanakannya ? pertanyaan tersebut ingin mengharapkan perhatian kepada cara
menyelesaikan pekerjaan yang bersangkutan dan merupakan tes terhadap
kesinambungan denagn jawaban-jawaban kelima pertanyaan diatas.
Jadi perencanaan berperan
menetukan tujuan dan prosedur pencapaian tujuan yang pada hakekatnya untuk
memperjelas anggota organisasi untuk melakukan kegiatan sesaui tujuan dan
berperan juga untuk memantau maupun mengukur keberhasilan serta magatasi bila ada kekeliruan.
b)
Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian
salah satu kegiatan yang mana pada hakekatnya salah satu pokok pembagian tugas
dan tanggung jawab yang harus dikerjakan oleh anggota untuk mencapai tujuan
organisasi secara efektif dan efesien. Menurut Rosady Ruslan (2003:2-3),
pengorganisasian meliputi pemberian tugas spesifik kepada masing-masing pihak,
membentuk bagian, mendelegasikan dan menetapkan jalur wewenang. Adapun dari
segi komunikasi, sebuah organisasi dapat dilihat dari dua bentuk yaitu
komunikasi antar manajemen dan komunikasi antar karyawan.
George R.Tery, seperti yang dikutip oleh Rosady
Ruslan (2003:10-12), komunikasi antar manajemen dan komunikasi antar karyawan dapat
dijabarkan secara garis besar terdapat 5 (lima) bentuk komunikasi dalam
manjemen, yaitu :
1.
Komunikasi formal
adalah bentuk komunikasi dalam jalur oraganisasi formal, memiliki wewenang dan
tanggung jawab yaitu instruksi-instruksi bentuk lisan dan tertulis sesaui
dengan proses secara fungsional yang berlaku, juga memiliki arus komunikasi
atasan kebawahan atau sebalikannya.
2.
Komunikasi non formal
yaitu bentuk komunikasi ini berada diluar komunikasi formal. Komunikasi ini
dapat terjadi secara tiba-tiba atau spontan dalam kondisi yang tidak diharapkan
terjadi komunikasi formal seperti hubungan antar pribadi untuk menjelaskan atau
memberikan saran yang berkaitan dengan tugas kewajiban.
3.
Komunikasi informal
adalah bentuk komunikasi ini lebih dekat kepada komunikasi non formal,
berkaitan dengan aspek –aspek kewajiban, bersifat lebih sensitif dan
sentimentil karena berdominasi oleh kontak hubungan antar manusia.
4.
Kominukasi teknis,
hubungan komunikasi ini lebih keteknis
dan hanya dapat dipahami atau mengerti oleh para ahli atau pekerja,
khusus yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Misal komunikasi bidang pekerjaan
teknik mesin tertentu, program komputerisasi dan lainnya sebagainya.
5.
Komunikasi prosedural
adalah bentuk komunikasi ini lebih dekat dengan komunikasi formal, contohnya
adalah memo, laporan berkala bulan atau tahunan, tata cara proses dan
penyelesaian suatu pekerjaan, termasuk pula dalam bentuk komunikasi ini adalah
hubungan pekerjaan antara pemimpin dan bawahan yang tetap dalam bentuk
peraturan tertulis dan rinci mengenai suatu deskripsi jabatan.
c)
Pengarahan (Actuating)
Pengarahan,
sebagaimana yang di maksudkan oleh Mamduh M. Hanafi (1997:12) adalah
mengarahkan orang-orang yang ada dalam oraganisasi sesuai peranan
masing-masing, sehingga tujuan organisasi dan bagian-bagiannya dapat dicapai.
Pengarahan mempunyai dua proses yaitu kegiatan memberi pengarahan (directing)
dan memotivasi orang tersebut untuk bekerja (motivating). Pengarahan merupakan
yang sangat menyangkut perilaku manusia yang beraneka ragaman serta berkaitan
dengan sumber daya lain yang dimiliki. Oleh karena itu, fungsi pengarahan
menunjukkan aktivitas-aktivitas seperti penyusunan staf, koordinasi perintah,
kepemimpinan dan pelaporan, dalam pengarahan pemimpin harus memperhatikan
kepentingan individua, kepentingan kelompok serta kepentingan organisasi.
d)
Pengendalian (Controling)
Pengendalian,
menurut Basu Swasta DH sewbagiamana ayng dikutip oleh Rusady Ruslan (1996:3)
memperoleh fungsi tersendiri dari manjemen. Ia mencakup beberapa fungsi,
diantaranya adalah untuk menjaga standar kualitas dan kuantitas hasil kerja,
baik berbentuk produk maupun jasa yang bertikan oleh organisasi. Pengendalian
diperlukan untuk memastikan bahwa kegiatan berjalan sesuai dengan yang sudah
direncanakan, sehingga pengendalian harus selalu dilakukan dalam seluruh
organisasi. Bukan hanya untuk manajemen tingkat atas saja, bukan pula untuk
satu bagian saja akan tetapi untuk semua aktivitas dalam berbagai tingkat
organisasi.
Menurut Tim
FKIP UMS (2002:18) pengendalian meliputi kegiatan, kegiatan pengukuran,
membandingkan dengan standar dan memperbaiki penyimpanan. Melakukan pengukuran
artinya mengukur hasil out put dari aktivitas yang dilakukan. Dari hasil ukuran
tersebut kemudian dibandingkan dengan standar atau rencana yang telah dibuat.
Jika ditemukan adanya penyimpangan yang signifikan, maka diusahakan adanya
perbaikan.
Sedangkan
menurut Tim FKIP UMS (2003:16) ada empat
faktor yang menimbulkan perlunya dilakukan pengendalian yaitu :
1)
Tujuan organisasi belum tentu sama dengan tujuan individu maupun
tujuan kelompok.
2)
Ada jarak waktu antara perencanaan dengan pelaksanaan, sementara
lingkunagn oraganisasi selalu berubah.
3)
Masalah yang dihadapi organisasi sangat komplek.
4)
Karyawan atau bawahan yang mempunyai karakteristik yang beraneka
ragam sebagai manusia yang tidak luput dari berbuat salah.
Jadi dapat
disimpulkan bahwa fungsi manajemen pada hakekatnya adalah untuk melakukan
segala tindakan atau aktivitas yang perlu dilaksanakan dalam rangka pencapaian
tujuan dalam batas-batas kebijakan umum yang telah ditentukan.
Menurut Lasa
(2008:15) mengemumakan bahwa manajemen dapat diartikan sebagai pelaksana
rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga dengan
melaksanakan sejumlah fungsi tertentu. Hal ini berarti bahwa pencapaian tujuan
itu unsur organisasi atau lembaga harus melakukan serangakian fungsi yang
disebut denagn fungsi-fungsi manajerial. Manajer memegang peran peting dalam
menggerakkan roda organisasi dan mengatur seluruh kegiatan untuk mencapai
tujuan. Manjerlah yang menggerakan aktivitas operasional dan memainkan peran
sebagai pembuat strategi , pemimpin, administrator, dan penyelesaian masalah. Sebagaian
besar ahli mencantumkan fungsi perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan.
B.
Pengertian Manajemen Humas di sekolah
Istilah hubungan
masyarakat dikemukakan pertama kali oleh ThomasJefferson (Presiden Amerika
Serikat) pada tahun 1987. Menurut Griswold humas merupakan fungsi manajemen
yang diadakan untuk menilai dan menyimpulkan sikap-sikap publik, menyesuaikan
policy dan prosedur instansi atau organisasi dengan kepentingan umum,
menjalankan suatu program untuk mendapatkan pengertian dan dukungan masyarakat.
Sementara itu, Bonar mengemukakan bahwa hubungan masyarakat yang menjalankan
usahanya untuk mencapai hubungan yang harmonis antara sesuatu badan organisasi
dengan masyarakat sekelilingnya. Hubungan masyarakat didefinisikan sebagai seni
dan ilmu untuk menganalisis kecenderungan mempredikisi konsekuensi-konseuensi,
menasehati para pemimpin organisasi, dan melaksanakan program yang terencana
mengenai kegiatan-kegiatan yang melayani, baik kepentingan organisasi maupun
kepentingan publik. Definisi tersebut dirumuskan dalam ”The Statement of
Mexico:” dan masih banyak lagi definisi yang disampaikan oleh para ahli, yang
pada dasarnya mencakup unsur-unsur antara lain : Hasbulloh (2006: 124)
a.
Suatu proses
yang mencakup hubungan timbal balik antara organisasi dan publiknya,
b.
Analisis dan
evaluasi melalui penelitian lapangan terhadap sikap, opini dan kecenderungan
sosial, serta mengkomunikasikannya kepada pihak manajemen/pimpinan,
c.
Konseling manajemen agar dapat dipastikan bahwa
kebijaksanaan,tatacarakegiatan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial dalam
konteks demi kepentingan bersama bagi kedua belah pihak
d.
Pelaksanaan atau
menindaklanjuti program aktivitas yang terencana, mengkomunikasikan dan
mengevaluasi,
e.
Perencanaan
dengan itikad yang baik, saling pengertian, dan penerimaan dari pihak publiknya sebagai
hasil akhir dari aktivitas public relation. Marno (2007 : 150)
Sulistyorini
(2009:144), mengungkapkan dalam pengertian Humas bahwa :
1)
Hubungan masyarakat merupakan suatu kegiatan yang
bertujuan memperoleh good will, kepercayaan, saling pengertian, dan
citra yang baik dari public.
2)
Sasaran hubungan masyarakat adalah menciptakan opini
public yang favourable, menguntungkan semua pihak (lembaga pendidikan
islam dan masyarakat).
3)
Hubungan masyarakat merupakan unsur sangat penting
dalam manajemen guna mencapai tujuan yang spesifik dari organisasi lembaga
pendidikan islam.
4)
Hubungan masyarakat adalah usaha untuk mencapai
hubungan yang harmonis anatara satu sekolah dengan denagn masyarakat melalui
sautu proses komunikasi timbal balik atau dua arah. Hubungan yang harmonis ini
timbul dari adanya mutual understanding, mutuel confidence dan imaje
yang baik. Ini semua merupakan langkah-langkah yang ditempuh oleh Hubungan
masyarakat untuk mencapai hubungan yang harmonis.
Menurut
E. Mulyasa (2009 : 164) manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat
merupakan seluruh proses kegiatan
sekolah yang di rencanakan dan diusahakan secara sengaja dan
bersungguh-sungguh, serta pembinaan secara continyu untuk mendapatkan simpati
dari masyarakat panya umumnya, khususnya masyarakat yang berkepentingan
langsung dengan sekolah. Denagn demikian, kegiatan operasional pendidikan,
kinerja, dan produktivitas sekolah diharapkan semakin efektif, dan efesien.
Pada hakikatnya, sekolah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat,
seperti orang tua yang bergabung dalam Badan Pembantu Penyelengaraan Pendidikan
(BP3), dan atasan langsung. Demikian pula hasil pendidikan yang berupa lulusan,
akan menjadi harapan dan dambaan masyarakat.
Jadi
hubungan masyarakat pada prinsipnya merupakan kegiatan komunikasi antara
organisasi dengan masyarakat dalam arti luas. Sekolah dan masyarakat merupakan
partnership dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan aspek-aspek
pendidikan, diantaranya :
a.
Sekolah dengan masyarakat merupakan satu keutuhan dalam
menyelenggarakan pendidikan dan pembinaan pribadi peserta didik.
b.
Sekolah dengan tenaga kependidikan menyadari pentingnya
kerjasama dengan masyarakat, bukan saja dalam melakukan pembaruan tetapi juga
dalam menerima berbagai konsekuensi dan dampaknya,serta mencari alternatif
pemecahannya.
c.
Sekolah dengan
masyarakat sekitar memiliki andil dan mengambil bagian serta bantuan dalam
pendidikan di sekolah, untuk mengembangkan berbagai potensi secara optimal
sesuai dengan harapan peserta didik. E. Mulyasa (2009:172 )
C.
Tujuan dan fungsi Humas di sekolah
Tujuan hubungan sekolah dan masyarakat dapat diuraikan
sebagai berikut :
a.
Mengembangkan
pembinaan pengertian masyarakat tentang semua aspek/bidang pelaksanaan program
pendidikan di sekolah. Pemahaman program yang dilakukan di sekolah sangat
penting diketahui orang tua dan masyarakat dengan tujuan agar mereka
termotivasi untuk bisa memberikan
bantuan yang maksimal terhadap terlaksananya programprogram sekolah tersebut. Imron
Siregar, dkk. (2005 : 64-65)
b.
Menampung harapan-harapan tentang tujuan pendidikan
disekolah.Tujuan sekolah perlu diketahui dan disepakati bersama oleh pihak sekolah
dan masyarakat melalui pertemuan rutin antara sekolah dengan masyarakat/orang
tua murid.
c.
Memperoleh
partisipasi, dukungan dan bantuan secara konkrit dari masyarakat baik berupa
tenaga, sarana, maupun dana demi kelancaran dan tercapainya tujuan pendidikan.
d.
Mengikutsertakan masyarakat dalam memecahkan
permasalahan yang dihadapi sekolah. E. Mulyasa (2009:172)
Sutsina(1987
: 1450) mengemukakan maksud hubungan sekolah dengan masyarakat:
1)
Untuk mengembangkan pemahaman tentang maksud dan
saran-saran dari sekolah.
2)
untuk menilai program sekolah.
3)
untuk mempersatukan orang tua murid dan guru dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan anak didik.
4)
untuk mengembangkan kesadaran tentang pentingnya
pendidikan sekolah dalam era pembangunan.
5)
Untuk membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat
terhadap sekolah.
6)
untuk memberitahu masyarakat tentang pekerjaan sekolah.
7)
untuk mengerahkan dukungan dan bantuan bagi
pemeliharaan dan peningkatan program sekolah E. Mulyasa (2009:164.).
Dengan memberdayakan masyarakat dan lingkungan sekitar
sekolah diharapkan tercapai tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu meningkatnya
kinerja sekolah dan terlaksananya proses pendidikan disekolah secara produktif,
efektif dan efisien sehingga menghasilkan lulusan yang produktif dan berkualitas.
Lulusan yang berkualitas ini tampak dari penguasaan peserta didik terhadap
berbagai kompetensi dasar yang dapat dijadikan bekal untuk bekerja di dunia
usaha, melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, hidup
di masyarakat secara layak, dan belajar untuk terus meningkatkan diri sesuai
dengan asas belajar sepanjang hayat (life long learning). E. Mulyasa (2009: 166-167).
D.
Bentuk-bentuk hubungan masyarakat
Salah
satu tujuan keluar Hubungan Masyarakat adalah mempererat hubungan dengan orang-orang
atau instansi diluar organisasi atau sekolah, demi menciptanya opini publik
yang menguntungkan organisasi atau sekolah itu. Tugasnya adalah mengadakan
komunikasi dua arah yang sifatnya informatif dan persuasif kepada publik luar.
Informasi harus diberikan dengan jujur, berdasarkan fakta, dan harus diteliti,
karena publik mempunyai hak untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya tentang
sesuatu yang menyangkut tentang kepentingannya.
Adapun bentuk-bentuk dari kerjasama Humas dengan publik
luar yaitu :
a.
Hubungan melalui kontak pribadi
Salah satu pekerjaan hubungan masyarakat adalah memikirkan dan
memperhatikan kepentingan publik. Wawasan seorang petugas publik relations
biasanya dibentuk oleh pengalaman mereka. Yang perlu diperhatikan adalah
perlakuan terhadap perorangan yang mempunyai hubungan dengan lembaga atau
organisasi itu. Berhasilnya seorang petugas publik relations dalam melakukan
hubungan atau interaksi dengan orang lain ditentukan oleh sikap yang ramah,
sopan, hormat, menaruh perhatian kepada orang lain. Manusia bersikap manusiawi
bukanlah sesuatu yang istimewa karena itu merupakan sifat dasar dan kodratnya.
b.
Hubungan dengan media massa
Kegiatan publik relations yang paling penting adalah
menyelenggarakan hubungan dengan media massa, karena media massa mempunyai
perenan yang penting dalam penyebaran informasi kepada masyarakat juga
pemerintah dan bentuk pendapat umum.
Hubungan publik relations dengan media mempunyai sasaran yaitu :
1)
Untuk memperoleh publisitas seluas mungkin mengenai
kegiatan serta langkah lembaga/organisasi yang dianggap baik untuk diketahui
oleh publik
2)
Untuk memperoleh tempat dalam pemberitaan pers
(liputan, laporan, ulasan, tajuk) yang objektif, wajar dan seimbang mengenai
hal-hal yang menguntungkan organisasi /lembaga tersebut.
3)
Untuk memperoleh umpan balik mengenai upaya dan
kegiatan lembaga/organisasi tersebut.
4)
Melengkapi data bagi pemimpin lembaga/organisasi untuk
keperluan pembuatan penilaian secara tepat mengenai situasi atau permasalahan
yang mempengaruhi keberhasilan kegiatan lembaga/ sekolah.
5)
Mewujudkan hubungan yang stabil dan berkelanjutan yang
dilandasi oleh rasa saling percaya dan saling menghormati.
c.
Kerja sama Humas dengan masyarakat
Untuk mengupayakan keberhasilan suatu lembaga/organisasi, maka
hubungan dengan masyarakat perlu dibina terutama bila organisasi akan memulai
suatu usaha atau kegiatan yang diharapkan dapat mempengaruhi kehidupan
lingkungan dimana kegiatan dilakukan. Untuk memperlancar hubungan ini harus
diupayakan adanya alat bantu yang memungkinkan lancarnya hubungan tersebut.
Program komunikasi tatap muka dapat diadakan dengan menggunakan
alat bantu, seperti :
1)
Penyelenggaran pameran yang bersifat umum dan tematik.
2)
Pemberian ceramah atas inisiatif sendiri atau atas
permintaan masyarakat.
3)
Pemutaran/pertunjukan film yang temanya ada hubungan
dengan organisasi/sekolah yang bersangkutan.
4)
Pengaturan dan penawaran open house yang merupakan
undangan kepada masyarakat lingkungan untuk mengunjuni lembaga.
5)
Penyelengaraan acara-acara pertunjukan/kesenian rakyat
tradisional yang bersifat hiburan untuk masyarakat sekelilingnya.
Adapun kelompok-kelompok masyarakat yang dapat dilibatkan untuk
melaksanakannya kegiatan-kegiatan sekolah meliputi :
a.
Kelompok masyarakat dalam sekolah
b.
Badan pembantu penyelenggara pendidikan (BP3)
c.
Komite sekolah
d.
OSIS
e.
Perkumpulan alumni sekolah
f.
Organisasi profesi
g.
Kelompok masyarakat luar
h.
Penduduk atau kelompok masyarakat disekitar sekolah
i.
Instansi yang berkantor dekat sekitar gedung sekolah
j.
Lembaga-lembaga masyarakat pada umumnya
k.
Dewan pendidik.
E.
Praktek dan Etika dalam kegiatan humas
Bentuk-bentuk
hubungan masyarakat dalam prakteknya, banyak sekali tergantung dari metode yang
di paling efektif dalam rangka untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan
lembaga atau organisasi yang dikelola tersebut. Adapun bentuk-bentuk hubungan
masyarakat dalam prakteknya bisa berupa :
a.
Menertibtkan majalah organisasi, majalah organisasi
merupakan sarana yang penting dalam kegiatan hubungan masyarakat dalam rangka
memelihara dan membina hubungan yang harmonis antara pimpinan organisasi dengan
publik interen maupun ekstern.
b.
Membuat film dokumenter, yang titik beratnya pada fakta
atau peristiwa yang benar-benar terjadi.
c.
Menyelenggarakan pameran, untuk memperkenalkan
lembaga/organisasi yang dikelola bisa juga dengan mengadakan pameran untuk
memperkenalkan sebuah sekolah mengenai produksi yang dihasilkan.
d.
Menggunakan media masa, media masa digunakan untuk
mempublikasikan dan mempromosikan lembaga/organisasi atau sekolah yang baru
atau memperkenalkan produk baru yang merupakan produk unggulan. Sulistyorini
(2009:154-155).
Sehubungan
dengan kegiatan ini tampak pentingnya faktor etika yang terdapat pada diri
komunikator yang akan dilaksanakan hubungan masyarakat itu.
Pentingnya
kode etik Public Relation (PUREL) ini dikarenakan semakin berkembangnya
masyarakat dan majunya teknologi, yang sebagai akibatnya berpengaruh kepada
hubungan antara manusia, hubungan antar manusia dengan publik, dan antara
organisasi dengan organisasi sehingga perlukan suatu pedoman yang disepakati bersama.
Kode
etik tersebut ternyata tidak cukup dengan diadakan dalam lingkup nasional,
melainkan lebih luas lingkup internasional, karena ternyata berkembangnya
masyarakat dan majunya teknologi itu,
menyangkut kegiatan antar bangsa dan antar budaya. Akan tetapi dalam hal ini
ada paradoks baru dari fragmantasi dan globalisasi sebagai akses semakin meluas
dan kompleknya Purel. Akan di sebutkan pardoknya yaitu :
1)
Kesetaraan informasi secara serentak dari negara-negara
yang sudah mengglobal seperti sekarang ditunjang dengan kebutuhan akan lebih
banyaknya kontak secara tatap muka, teteapi pada saat yang sama, pasar-pasar
lebih terfragmentasikan.
2)
Hubungan masyarakat yang berkaitan dengan human
relations, mencakup keterkaitan denagn komunikasi manusia. Para pakar Purel hendaknya sadar akan fakta bahwa melipatgandakan
teknik dan media komunikasi tidak dengan sendirinya berarti melipatgandakan
komunikasi sebagai aspek fundamental dari eksistensi manusia dalam arti
pengertian dan ikut sertaan.
3)
Dengan pendidikan yang meningkat dan mobilitas yang
cepat kecuali bagi penduduk miskin, harapan, menjadi tinggi, sebaliknya sikap
tidak demikian. Jika organisasi mempunyai fleksibilitas dalam komunikasi
pesan-pesan, ternyata terdapat lebih banyak khalayak yang membutuhkan lebih
banyak dialog dan sedikit propaganda.
Di
Indonesia masalah kode etik hubungan masyarakat belum mendapat perhatian yang
seksama dari pakar, mungkin karena di Indonesia Purel baru berkembang di
instansi-instansi pemerintah, yang sebagai pejabat pemerintah otomatis menjadi
anggota Koprs Pegawai Republik Indonesia (KORPRI), mempunyai kode etik sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar