Rabu, 21 Januari 2015

PEMBAHARU ISLAM ISMAIL RAJ'I AL FARUQI


POLA PEmIKirAN KALAM KONTEMPORER
ISMAIL AL-FARUQI
Pembahasan


A.    Riwayat Ismail Al-Faruqi
Nama lengkapnya adalah Ismail raji Al-Faruqi.Beliau lahir pada tanggal 1 Januari 1921 di Jaffa Palestina. Pendidikan dasarnya di mulai di madrasah, lalu pendidikan menengah di College des Freres St.Joseph dengan bahasa pengantar Perancis. Kemudian pada tahun 1941 Al-Faruqi mengambil kuliah filssafat di American University,Beirut. Setelah ia meraih gelar Bachelor of Art ,ia kemudian bekerja sebagai pegawai negeri sipil pada pemerintahan Inggris _yang memegang mandate atas Palestina ketika itu_selama empat tahun. Karena kepemimpinannnya menonjol.pada usia 24 tahun ia diangkat menjadi Gubernur Galilea.
Pada tahun 1948,Palestina dijarah oleh Israel  dan Al-Faruqi seperti halnya warga Israel lainnya terusir dari negara kelahirannya. Ia tercatat sebagai gubernur Gaillea terakhir yang berdarah Palestina. Setelah setahun menganggur,pada tahun berikutnya, 1949 Al-Faruqi hijrah ke AS untuk melanjutkan kuliahnya. Ia mendapat gelar master filsafat dari Universitas Indiana. Dua tahun kemudian ,gelar master filsafat kembali ia raih dari Universitas Harvard. Kemudian Faruqi memilih kembali ke Universitas Indiana, dan pada 1952 meraih Ph.D filsafat dengan fying the God: Metaphysics and Epistemology of Value.
Merasa kurang pengetahuannya mengenai Islam-walaupun sudah bergelar doctor- Faruqi lalu pergi ke Mesir. Selama tiga tahun, ia menyelesaikan pasca sarjana di Universitas Al-Azhar. Karena kuat dorongan belajarnya itu pulalah, Faruqi memenuhi undangan Wilfred C,Smith untuk bergabung dengan Institute Of Islamic Studies di Universitas McGill,Canada. Ia disana selama dua tahun,yakni pada 1959-1961. Selain mengajar ia mempelajari etika Yahudi dan Kristen.
Pada tahun 1964,Faruqi kembali ke AS. Pertama-tama yang dia kerjakan adalah menjadi guru besar tamu pada Universitas Chicago dan Associate Profesor bidang agama pada universitas Syracuse. Lalu pada tahun 1968, hingga wafatnya ia menjabat guru besar agama pada Universitas Temple. Bersamaan itu ia juga menjabat sebagai Profesor studi Keislaman pada Central Institute Of Isamic Research,Karachi.[1]
Diantara kontribusi terbesar faruqi adalah kepeloporannya memperkenalkan program-program studi  Islam di Universitas AS. Ia disebut sebagai "Sarjana muslim pertama yang mendedikasikan sepanjang hayatnya pada studi-studi Islam di AS dan menjadikan AS sebagai kediaman terakhirnya."Faruqi juga sangat berjasa dalam memperkenalkan kepada masyarakat Amerika tentang hakikat Islam yang sebelumnya dikenal sebagai agama yang buruk . disamping itu, ia aktif pula menghadiri berbagai pertemuan sekitar studi agama-agama yang ada.  Bahkan, ia sempat membentuk kelompok Kajian Islam American Academy Of Religion dan mengetuai komite pengarahannya selama beberapa tahun.
Keaktifan Faruqi di berbagai kelompom Study Islam dan keterlibatannya dalam gerakan-gerakan Islam amat menonjol. Ia adalah tokoh dibalik pembentukankan MSA.ISNA,AJISS,AMSS,IIIT dan banyak lagi lembaga Keislaman di AS.
Dalam mendistribusikan ide-idenya. Ia sangat eksploratif dalam lapangan keilmuan, sehingga wajar kalau ia mampu menguasai berbagai macam disiplin keilmuan, antara lain: seni, kebudayaan, filsafat, metafisika, epistemologi, keagamaan, pendidikan, sejarah, dan politik. Menurut Nasution, al-Faruqi setidaknya telah menghasilkan lebih dari 20 buku dan kurang lebih 100 artikel.
Karya-karya al-Faruqi berupa buku antara lain: Christian Ethics; An Historical Atlas of the Religions of the World; Trialogue of Abrahamic Faiths; The Cultural Atlas of Islam   yang dikarang bersama istrinya, Lamya’ Al-Faruqi, dan terbit beberapa saat  setelah mereka wafat[2]
Ia juga kerap diundang sebagai tutor oleh para pemimpin muda muslim yang terkibat dalam gerakan-gerakan Islam. Faruqi juga duduk sebagai penasihat di berbagai universitas si dunia Islam dan ikut mendesain program study Islam di Pakistan, India , Afriika Selatan, Malaysia, Libya, Saudi Arabia dan MEsir.Juga ditempat-tempat terpencil Mindanau State University, Filipina dan Universitas Islam Kun , Taheran.

B.     Pemikiran Kalam Al-Faruqi
Al-Faruqi banyak mengemukakan gagasan serta pemikiran yang berhubungan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh Umat Islam. Dan semua pemikirannya itu saling terkait satu sama lain, semuanya berporos pada satu sumbu yaitu Tauhid. Diantaranya pemikiran Al-Faruqi yang terpenting adalah:
1.      Tauhid
Melalui karyanya yang berjudul ,Tahwid: Its Implications for Thought and Life (Edisi Indonesianya berjudul Tauhid). Sesuai dengan judulnya buku ini mengupas tauhid secara mendalam. Al-Faruqi menjelaskan hakikat tauhid sebagai berikut ;
a.      Tauhid sebagai inti pengalaman agama
Inti pengalaman agama ,kata Al-Faruqi adalah Tuhan. Kalimat Syahadat menempati posisi sentral dalam setiap kedudukan,tindakan,dan pemikiran setiap muslim. Kehadiran tuhan mengisi kesadaran muslim pada setiap waktu.Bagi kaum muslimin,tuhan merupakan benar-benar obsesi yang agung. Esensi pengalaman agama dalam Islam tiada lain adalah realisasi prinsip bahwa hidup dan kehidupan ini tidaklah sia-sia.
b.      Tauhid sebagai pandangan dunia
Tauhid merupakan pandangan umum mengenai realitas,kebenaran,dunia,ruang, dan waktu,sejarah manusia, dan takdir.
c.       Tauhid sebagai intisari Islam
Dapat dipastikan bahwa esensi peradaban islam adalah Islam sendiri, dan esensi Islam adalah tauhid dan pengesaan Tuhan.Tidak ada satu perintah pun dalam islam yang dapat dilepaskan dari tauhid. Tanpa Tauhid, Islam tidak aka nada. Tanpa Tauhid, bukan hanya sunnagh nabi yang patut diragukan,bahkan pranata kenabian pun menjadi sirna.
d.      Tauhid sebagai prinsip sejarah
Tauhid menempatkan manusia pada suatu etika berbuat atau bertindak,yaitu etika keberhargaan manusia sebagai pelaku moral diukur dari tingkat keberhasilan yang dicapainya dalam mengisi ruang dan waktu.Eskatologi Islam tidak mempunyai sejarah formatif. Ia terlahir lengkap dalam Al-Qur'an, dan tidak mempunyai kaitan dengan situasi para pengikutnya pada masa kelahirannya seperti halnya dengan agama Yahudi atau Kristen. Ia dipandang sebagai suatu klimaks moral bagi kehidupan di atas bumi.
e.       Tauhid sebagai prinsip pengetahuan
Berbeda dengan "iman" Kristen, iman Islam adalah kebenaran yang diberikan kepada pikiran, bukan kepada perasaan manusia yang mudah mempercayai apa saja. Kebenaran,atau proposisi iman bukanlah misteri, hal yang sulit dipahami dan tidak adapat diketahui dan tidak masuk akal,melainkan bersifat kritis dan rasional. Kebenaran-kebenarannya telah dihadapkan pada ujian keraguan dan lulus dalam keadaan utuh dan ditetapkan sebagai kebenaran.
f.        Tauhid sebagai prinsip metafisika
Dalam Islam, alam adalah ciptaan dan anugerah. Sebagai ciptaan ia bersifat teleologis ,semppurna dan teratur. Sebagai anugerah ia merupakan kebaikan yang tak mengandung dosa yang disediakan untuk manusia. Tujuannya adalah memungkinkan manusia melakukan kebaikan dan mencapai kebahagiaan. Tiga penilaian ini ,keteraturan,kebertujuan dan kebaikan, menjadi cirri  dan meringkas pandangan umat islamtentang alam.
g.      Tauhid sebagai prinsip etika
Tauhid menegaskan bahwa Tuhan telah memberi amanat-Nya kepada manusia,suatu amanat yang tidak mampu dipikul oleh langit dan bumi,amanat yang mereka hindari dengan penuh ketakutan. Amanat atau kepercayaan ilahi tersebut berupa pemenuhan unsure etika dari kehendak ilahi,yang sifatnya mensyaratkan bahwa ia harus direalisasikan dengan kemerdekaan,dan manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu melaksanakannya. Dalam Islam ,etika tidak dapat dipisahkan dari agama dan bahkan dibangun diatasnya.
h.      Tauhid sebagai prinsip tata social
Dalam Islam tidak ada perbedaan antara manusia satu dan lainnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang terbuka dan setiap manusia boleh bergabung dengannya, baik sebagai anggota tetap maupun sebagai yang dilindungi (dzimmah). Masyarakat Islam harus berusaha mengembangkan dirinya untuk mencakup seluruh umat manusia. Jika tidak, ia akan kehilangan klaim keislamanmmya. Selanjutnya, ia mungkin akan terus jidup sebagi suatu komunitas Islam yang lain,atau oleh komunitas non islam.
i.        Tauhid sebagai prinsip tata ummah
Al-faruqi menjelaskan prinsi ummah tauhidi dengan tiga identitas :Pertama ,menentang Etnosentrisme. Maksudnya tata social Islamadaah universal , mencakup seluruh umat manusia tanpa terkecuali,tidak hanya untuk segelintir etnis. Kedua, Universalisme, Maksudnya, Islam bersifat universal dalam dalam arti meliputi seluruh manusia. Cita-cita kumonitas Universal adalah cita-cita islam yang diungkapkan dalam ummah dunia. Ketiga,totalisme. Maksudnya Islam relevan dengan setiap bidang kegiatan hidup manusia. Totalisme tata social islam tidak hanya menyangkut aktivitas manusia dan tujuannya di masa mereka  saja, tetapi mencakup seluruh aktivitas si setiap masa dan tempat. Keempat ,kemerdekaan. Maksudnya,tata social Islam adalah kemerdekaan. Jika dibangun dengan kekerasan atau dengan memaksa rakyat, Islam akan kehilangan sifatnya yang khas.
j.        Tauhid sebagai prinsip keluarga
Al-Faruqi memandang bahwa selama tetap melestarikan identitasmereka dari gerogotan Komunisme dan ideology-ideologi Barat, umat Islam akan menjadi masyarakat yang selamat dan tetap menempati kedudukan yang terhormat. Keluarga Islam memiliki peluang lebih besar untuk tetap lestari sebab ditopang oleh hukum Islam dan dideterminisi oleh hbungan erat dengan tauhid.
k.       Tauhid sebagai prinsip tata politik
Al-faruqi mengaitkan tata politik tauhidi dengan kekhalifahan . Kekhalifahan didefiniskan sebagai keseparakatan tiga dimensi, yakni kesepakaktan wawasan (ijma ar-ru'yah), kehendak (ijma al-iradaha) ,dan tindakan (ijma al-amal) . Wawasan yang dimaksud Al-Faruqi adalah pengetahuan akan nilai-nilai yang membentuk kehendak Ilahi. Kehendk uang dimaksud Al-Faruqi adalah pengetahuan akan nilai-nilai yang membentuk kehendak Ilahi. KEhendak yang dimaksud adalah apa yang disebutnya dengan ashabiyyah ,yakni kepedulian kaum muslimin menanggapi peristiwa-eristiwa dan situasi dengan satu cara yang sama,dalam kepatuhan yang padu terhadap seruan Tuhan. Adapun yang dimaksud dengan tindakan adalah pelaksanaan kwajiban yang timbul dari kesepakatan.
l.        Tauhid sebagai prinsip tata ekonomi
Al-Faruqi melihat bahwa premis mayor implikasi  untuk tata ekonomi melahirkan dua prinsip utama : Pertama, bahwat tak ada seorang atau kelompokpun boleh memeras yang lain. Kedua, tak satu kelompok pun boleh mengasingkan atau  memisahkan dari umat manusia lainnya dengan tujuan untuk membatasi kondisi ekonomi pada diri mereka sendiri.
m.    Tauhid sebagai prinsip tata estetika
Tauhid tidak menentang kreativitas seni; juga tidak menentang kenikmatan dan keindahan. Senaliknya, Islam memberkati keindahan. Islam menganggap bahwa keindahan mutlak hanya ada dalam diri Tuhan dan dalam kehendak-Nya yang diwahyukan dalam firman-firman-Nya[3]
2.      Islamisasi Ilmu pengetahuan
Ide tentang islamisasi ilmu pengetahuan Al-Faruqi berkaitan erat dengan
idenya tentang tauhid, hal ini terangkum dalam prinsip tauhid ideasionalitas dan teologi. Dimana tujuan dan langkah kerjanya sebagai berikut :
1.      Penguasaan disiplin ilmu modern
2.      Penguasaan Khazanah Warisan Islam
3.      Membangun relevansi Islam dengan masing-masing disiplin ilmu modern
4.      Memadukan nilai-nilai dan khazanah warisan Islam secara kreatif  dengan ilmu-ilmu modern
5.      Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai  pemenuhan pola rencana Allah.
Sedangkan untuk merealisasikan tujuan-tujuan tersebut, Al-Faruqi menyusun  langkah-langkah yang secara kronologis harus ditempuh. yaitu:
1.      Penguasaan disiplin ilmu modern, penguasaan kategoris.
Dalam langkah awal ini, disiplin-disiiplin ilmu modern harus dipecah-pecah menjadi kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi, problema, dan tema-tema. Penguraian tersebut tidak hanya berbentuk judul-judul bab tetapi harus berbentuk judul-judul bab, tetapi harus berbentuk kalimat-kalimat yang memperjelas istilah-istilah teknis, menerangkan kategori, prinsip, problema dan tema pokok disiplin-disiplin ilmu modern tersebut dalam puncaknya.
2.      Survey disiplin ilmu
Pada tahap ini , setiap disiplin ilmu modern harus disurvei dan ditulis dalam bentuk bagan (skema) mengenai asal-usul, perkembangan dan pertumbuhan metodologinya, keluasan wawasannya serta sumbangan pemikiran yang telah diberikan paratokooh utamanya. Bibliografi dengan keterangan yang memadai dari karya-karya terpenting di bidang ini harus pula dicantumkan sebagai penutup dari masing-masing disiplin ilmu. Tujuannya untuk memantapkan pemahaman muslim terhadap berbagai disiplin ilmu modernyang berkembang di Barat,  sehingga mereka benar-benar mengetahui secara detail dan menyeluruh tentang kekurangan dan kelebihan disiplin-disiplin ilmu tersebut. Hasil Survei yang berkualitas yang dilengkapi daftar pustaka dan footnote yang lengkap akan menjadi dasar pengertian bersama bagi para ahli yang hendak melakukan Islamisasi Ilmu.
3.      Penguasaan khazanah Islam sebuah analogi.Pada tahap ini perlu dicari sampai sejauh mana khazanah Islam menyentuh dan membahas objek disiplin ilmu modern tertentu. Tujuannya agar dapat ditemukan kriteria relevansi diantara khasanah Barat dan Islam. Ini penting karena banyak ilmuwan muslim didikan barat tidak mengenal khasanah Islam sendiri, kemudian menganggap bahwa khasanah keilmuwan Islam tidak membahas disiplin ilmu yang ditekuni. Padahal yang terjadi adalah bahwa ia tidak mengenal kategori-kategori khasanah ilmiah Islam yang digunakan oleh keilmuwan muslim tradisional untuk mengklasifikasi objek disiplin ilmu yang ditekuninya.[4]



Penutup


-          Al-Faruqi adalah seorang tokoh yang sangat besahaja dalam pengembangan pemikiran Islam komtemporer. Gagasan-gagasannya sangat brilian dalam rangka memecahkan persoalan yang dihadapi umat Islam.
-          Kebesarannya yang langsung berhadapan dengan Barat membuat Al-Faruqi mengamati sendiri tekanan-tekanan barat terhadap dunia Islam dan hal ini memunculkan ide-ide untuk menghadapi serangan-serangan tersebut. Idenya tidak terlepas dari konsep tauhid, karena tauhid adalah esensi Islam yang mencakup seluruh aktifitas manusia.
-          Begitu pula idenya tentang Islamisasi, tidak terlepasa dari pro dan kontra dan telah membawanya pada puncak ketenaran di dunia. Gagasannya tetap mejadi umat Islam pada abad ini.







Daftar Pustaka
Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung, 2006.
Khudori  Soleh,  Wacana Baru Filsafat Islam, Yogyakarta,  Pustaka Pelajar
Offset. 2004.
Harun   Nasution   (Ed.), Ensiklopedi   Islam Indonesia . Vol.  I  Jakarta ,
Djambatan, 1992.



[1] Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam ( Pustaka Setia, Bandung, 2006), hal.227-228.
[2]Harun Nasution (Ed.). Ensiklopedi Islam Indonesia. Vol. I (.Jakarta: Djambatan,1992),hal.58.
[3]Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam .hal.230-232.
[4] Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.hal281

Tidak ada komentar:

Posting Komentar