Pendahuluan
Kehidupan
manusia dimulai sejak konsepsi hingga menjelang akhir khayat dan merupakan
proses yang berkesinambungan serta tiada batas-batas yang memagari. proses
perkembangan yang berkesinambungan itu selaras dengan irama dan tempo yang bervariasi
antara individu satu dengan yang lain, demikian pula antara fungsi satu dan
lainnya.
Masa
remaja dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran. Bukan saja kesukaran bagi
individu yang bersangkutan, tetapi juga bagi orang tuanya, masyarakat, bahkan seringkali
bagi polisi. Hal ini disebabkan masa remaja merupakan masa transisi antara masa
kanak-kanak dan dewasa.
Masa
remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak
mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Dalam hal ini, penting untuk
diketahui apa itu remaja? Apa hakikat dan aspek perkembangan remaja? Hal
tersebut akan dibahas dalam makalah ini.
Pembahasan
A.
Pengertian
Remaja
Kata
remaja disebutkan sebagai masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa, ada
juga istilah asing yang menunjukan masa remaja, antara lain: puberty (Inggris), puberteit (Belanda), pubertas
(latin), yang berarti kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda
kelaki-lakian.[1]
Adapula yang menggunakan istilah Adulescention
(Latin) yaitu masa muda. Sedangkan dalam Indonesia sering disebut pubertas
atau remaja.
Etimologi
atau asal kata istilah ini:
a) Puberty
(Inggris) atau puberteit (Belanda)
berasal dari bahasa Latin: pubertas.
Kata
lain pubescere berarti mendapat pubes atau rambut kemaluan yaitu suatu tanda
kelamin sekunder yang menunjukkan perkembangan seksual.
b) Adelecentia
berasal dari kata Latin.
Adulescentia,
adolescere=adultus=menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa.[2]
Batasan
masa remaja dari berbagai ahli memang sangat bervariasi, disini dapat diajukan
batasan: masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa
yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa.
Fase
remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali
dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi.
Menurut Konopka (Pikanus, 1976) masa remaja ini meliputi:
a)
Remaja awal
(12-15 tahun)
Pada masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai
anak-anak yang berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan tidak
tergantunng pada orang tua. Fokus dari tahap ini adalah penerimaan terhadap
bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman
sebaya.
b)
Remaja madya
(15-18tahun)
masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berfikir
yang baru. Pada masa ini remaja mulai mengembangkan kematangan tingkah laku,
belajar mengendalikan impulsivitas, dan membuat keputusan-keputusan awal yang
berkaitan dengan tujuan vokasional yang ingin dicapai. Selain itu penerimaan
dari lawan jenis menjadi penting bagi individu.
c)
Remaja akhir
(19-22tahun)
Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki
peran-peran orang dewasa. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima
dalam kelompok teman sebaya dan orang
dewasa.[3]
Sementara itu Salzman mengemukakan, bahwa
remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang
tua kea rah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri,
dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu moral.[4]
Monks,
Knoers dan Haditono, (2001) membedakan masa remaja atas 4 bagian, yaitu:
1)
Masa pra-remaja
atau pra-pubertas (10-12tahun)
2)
Masa remaja awal
atau pubertas (12-15tahun)
3)
Masa remaja
pertengahan (15-18tahun)
4)
Masa remaja
akhir (18-21tahun)[5]
Tingkat-tingkat
perkembangan dalam masa remaja dapat dibagi dengan berbagai cara. Salah satu
pembagian yang dilakukan oleh Stolz (1951) sebagai berikut:
a.
Masa pra-puber:
satu atau dua tahun sebelum masa remaja yang sesungguhnya. Anak menjadi gemuk,
pertumbuhan tinggi badan terhambat untuk sementara.
b.
Masa puber, atau
masa remaja: perubahan-perubahan sangat nyata dan cepat. Anak wanita lebih
cepat memasuki masa ini dari pada pria. Masa ini lamanya berkisar antara 2,5
sampai 3,5 tahun.
c.
Masa post-puber:
pertumbuhan yang cepat sudah berlalu, tetapi masih nampak perubahan-perubahan
tetap berlangsung pada beberapa baian badan.
d.
Masa akhir
puber: melanjutkan perkembangan sampai tercapai tanda-tanda kedewasaan.[6]
B.
Aspek
Perkembangan Remaja
Dalam hidupnya, setiap manusia akan mengalami berbagai tahap
perkembangan. Dan salah satu tahap perkembangan yang sering menjadi sorotan adalah
ketika seseorang memasuki usia remaja. Karena usia remaja adalah gerbang menuju
kedewasaan, jika dia berhasil melalui gerbang ini dengan baik, maka
tantangan-tantangan di masa selanjutnya akanrelatif mudahdihadapi.
Begitupun sebaliknya, bila dia gagal maka pada tahap perkembangan
berikutnya besar kemungkinan akan terjadi masalah pada dirinya. Oleh karena itu,
agar perkembangannya berjalan dengan baik, setidaknya ada lima aspek penting
yang harus dicermati, baik oleh orang tua, pendidik, maupun si remaja itu
sendiri.[7]
Perkembangan-perkembangan masa remaja yaitu:
1.
Perkembangan fisik
Waktu dan proses pertumbuhan fisik tidak sama
bagi semua remaja. Banyak faktor yang mempengaruhi jalannya pertumbuhan ini,
sehingga baik awal maupun akhir, prosesnya terjadi secara berbeda-beda.[8]
Pertumbuhan fisik mengalami perubahan dengan
cepat, lebih cepat dibanding dengan masa anak-anak dan masa dewasa.
Perkembangan fisik mereka jelas terlihat pada tungkai dan tangan, tulang kaki
dan tangan, otot-otot tubuh berkembang pesat, sehingga anak kelihatan bertubuh
tinggi, tetapi kepalanya masih mirip dengan anak-anak.[9]
Rangkaian perubahan yang paling jelas yang
nampak dialami oleh remaja adalah perubahan biologis dan fisiologis yang
berlangsung pada masa pubertas atau pada masa awal remaja, yaitu sekitar umur
11-15 tahun pada wanita dan 12-16 tahun pada pria (Hurlock, 1973: 20-21).
Hormon-hormon baru diproduksi oleh
kelenjar endokrin, dan ini membawa perubahan dalam ciri-ciri seks primer dan
memunculkan ciri-ciri sks sekunder. Gejala ini memberi isyarat bahwa fungsi
reproduksi atau kemampuan untuk menghasilkan keturunan sudah mulai bekerja.[10]
Menurut Zigler dan Stevenson (1993), secara
garis besarnya perubahan-perubahan tersebut dapat dikelompokan dalam dua
kategori, yaitu perubahan-perubahan yang berhubungan dengan pertumbuhan fisik
dan perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan karakteristik
seksual. Berikut ini akan dijelaskan beberapa dimensi perubahan fisik yang
terjadi secara masa remaja tersebut.[11]
a)
Perubahan dalam tinggi dan berat
Tinggi rata-rata anak laki-laki dan perempuan
pada usia 12 tahun adalah sekitar 59 atau 60 inci. Tetapi, pada usia 18 tahun,
tinggi rata-rata ramaja laki-laki adalah 64 inci, sedangkan tinggi rata-rata
perempuan hanya 64 inci.
Ada pun faktor penyebab laki-laki rata-rata
lebih tingi dari perempuan adalah karena laki-laki memulai percepatan
pertumbuhan mereka 2 tahun lebih lambat dibanding dengan anak perempuan. Dengan
demikian mereka mengalami penambahan pertumbuhan selama 2 tahun pada masa
anak-anak.
Percepatan pertumbuhan badan juga terjadi
dalam penambahan berat badan, yakni sekitar 13 kg bagi anak laki-laki dan 10 kg
bagi anak perempuan (Malina, 1990).[12]
b)
Perubahan ciri seks primer
Ciri-ciri seks primer yaitu organ tubuh yang
langsung berhubungan dengan proses reproduksi dan alat kelamin yaitu rahim,
saluran telur, vagina, bibir kemaluan dan kletoris bagi wanita, sedang untuk
pria yaitu penis, testis, dan skotrum.[13]
Perubahan-perubahan pada ciri-ciri seks
primer pada pria sangat dipengaruhi oleh hormon, terutama hormon perangsang
yang diproduksi oleh kelenjar bawah otak (pituitary
gland). Hormon perangsang pria ini merangsang testis, sehingga testis
menghasilkan hormon testosteron dan androgen serta spermatozoa (Sarwono, 1994).
Sperma yang dihasilkan dalam testis selama masa remaja ini, memungkinkan untuk
mengadakan reproduksi untuk pertama kalinya. Karena itu, kadang-kadang sekitar
usia 12 tahun, anak laki-laki kemungkinan untuk mengalami penyemburan air mani
(ejaqulation of semen) mereka yang
pertama kalinya tau yang dikenal dengan istilah “mimpi basah”.
Sementara itu, padaank perempuan, perubahan
ciri-ciri seks primer ditandai dengan munculnya periode menstruasi, yang
disebut dengan menarche, yaitu
menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang gadis.[14]
c)
Perubahan ciri seks sekunder
Ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda
jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi, namun
merupakan tanda-tanda yang membedakan antara laki-laki dan perempuan.[15]
perubahan ciri seks sekunder pada anak perempuan yaitu:
a.
Terjadi pertumbuhan payudara
b.
Tumbuh bulu ketiak dan disektar kemaluan
c.
Pinggul membesar
d.
Suara menjadi halus.
Perubahan ciri seks sekunder pada laki-laki:
a.
Tumbuh rambut-rambut halus di wajah (kumis,
jambang, dan jenggot)
b.
Tumbuh bulu ketiak dan di sekitar kemaluan
c.
Tumbuh rambut di dada dan kaki
d.
Jakun dan dada melebar
e.
Perubahan nada suara
2.
Perkembangan emosional
Akibat langsung dari perubahn fisik dan
hormonal adalah perubahan dalam aspek emosionalitas pada remaja sebagai akibat
dari perubahan fisik dan hormonal tadi, dan juga pengaruh lingkungan yang terkait
dengan perubahan badaniah.
Masa remaja merupakan puncak emosional, yaitu
perkembangan emosi tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual
mempengaruhi perkembangannya emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan
baru yang dialami sebelumnya.
Remaja yang dalam proses perkembangannya
berada dalam iklim yang kondusif, cenderung akan memperoleh perkembangan
emosinya secara matang (terutama pada masa remaja akhir). Kematangan emosi ini
ditandai oleh:(1) adekuasi emosi: cinta kasih, simpati, altruis (senang
menolong orang lain), respek (sikap hormat atau menghargai orang lain), ramah.
(2) mengendalikan emosi: tidak mudah tersinggung, tidak agresif, bersifat
optimis dan tidak pesimis (putus asa), dan dapat menghadapi situasi frustasi
secara wajar.[16]
3.
Perkembangan kognitif
Masa remaja adalah suatu periode kehidupan di
mana kapasitas untukk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien
mencapai puncaknya (Mussen, Conger dan Kagan, 1969). Hal ini adalah karena
selama periode remaja ini, proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan.
Ketika kemampuan kognitif mereka mncapai kematangan, kebanyakan anak remaja
mulai memikirkan tentang apa yang diharapan dan melakukan kritik terhadap
masyarakat mereka, orang tua mereka, dan bahkan terhadap kekurangan diri mereka
sendiri (Myer, 1996).
Kemudian, dengan kekuatan baru dalam
penalaran yang dimilikinya, menjadikan remaja mampu membuat pertimbangan dan
melakukan perdebatan sekitar topik-topik abstrak tentang manusia, kebaikan dan
kejahatan, kebenaran dan keadilan.
Semua perubahan fisik yang membawa implikasi
perubahan emosional makin dirumitkan oleh fakta bahwa individu juga sedang
mengalami perubahan kognitif. Perubahan dalam kemampuan befikir ini diungkapkan
oleh Piaget (1972) sebagai tahap terakhir yang disebut sebagai tahap formal
operation dalam perkembangan kognitifnya.[17]
Ditinjau dari perspektif teori kognitif
piaget, maka pemikiran masa remaja telah mencapai tahap pemikiran oprasional
formal (formal operational thought), yakni suatu tahap perkembangan kognitif
yang dimulai pada usia kira-kira 11 atau 12 tahun dan terus berlanjut sampai
remaja mencapai masa tenang atau dewasa (Lerner dan Hustlsch, 1983). Pada tahap
ini anak sudah mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu
yang abstrak. Disamping itu, pada tahap ini remaja sudah mampu berfikir secara
sistematis, mampu memikirkan semua kemungkinan secara sistematis untuk
memecahkan permasalahan. Dalam perkembangan kognitif meliputi beberapa hal
yaitu:
1)
Perkembangan pengambilan keputusan
2)
Perkembangan orientasi masa depan
3)
Perkembangan kognisi sosial
4)
Perkembangan penalaran moral
5)
Perkembangan pemahaman tentang agama
4.
Perkembangan psikososial
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa
selama masa remaja terjadi perubahan-perubahan yang dramatis, baik dalam fisik
maupun dalam kognitif. Perubahan-perubahan secara fisik dan kognitif tersebut,
ternyata berpengaruh terhadap perubahan dalam perkembangan psikososial mereka.[18]
Penyesuaian sosial ini dapat diartikan
sebagai “kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realitas sosial,
situasi, dan relasi”. Remaja dituntut untuk memiliki kemampuan penyesuaian
sosial ini, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
C.
Tugas
Perkembangan Remaja
Pada
setiap tahapan perkembangan manusia terdapat tugas-tugas tertentu yang berasal dari
harapan masyarakat yang harus dipenuhi oleh individu, dan ini sering disebut
tugas-tugas perkembangan. Pada akhir remaja ini, diharapkan tugas-tugas
tersebut telah terpenuhi sehingga individu siap memasuki masa dewasa dengan
peran-peran dan tugas barunya sebagai orang dewasa. Pikunas (1976) mengemukakan
beberapa tugas perkembangan yang penting pada tahap pertengahan dan akhir masa
remaja, yaitu:
a. Menerima
bentuk tubuh orang dewasa yang dimiliki dan hal-hal yang berkaitan dengan
fisiknya.
b. Mencapai
kemandirian emosional dari orang tua dan figure-figur otoritas
c. Mengembangkan
ketrampilan dalam komunikasi interpersonal, belajar membina relasi dengan teman
sebaya dan orang dewasa, baik secara individu maupun kelompok.
d. Menemukan
model untuk identifikasi
e. Menerima
diri sendiri dan mengandalkan kemampuan dan sumber-sumber yang ada pada
dirinya.
f. Memperkuat
control diri berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang ada
g. Meninggalkan
bentuk-bentuk reaksi dan penyesuaian yang kekanak-kanakan.
Dari
tugas-tugas tersebut, tampak bahwa secara umum tugas perkembangan masa remaja
berkaitan dengan diri sendiri dan juga dengan lingkungan sosial yang
dihadapinya.[19]
Penutup
Salah satu periode dalam
rentang kehidupan individu adalah masa remaja, dan masa remaja merupakan masa
transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak menuju masa dewasa yang mengalami perkembangan semua
aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa. Aspek-aspek perkembangan remaja
yaitu:
1.
Perkembangan fisik
2.
Perkembangan emosional
3.
Perkembangan kognitif
4.
Perkembangan psikososial
Pada setiap
tahapan perkembangan manusia terdapat tugas-tugas tertentu yang berasal dari
harapan masyarakat yang harus dipenuhi oleh individu, dan ini sering disebut
tugas-tugas perkembangan. Pada akhir remaja ini, diharapkan tugas-tugas
tersebut telah terpenuhi sehingga individu siap memasuki masa dewasa dengan
peran-peran dan tugas barunya sebagai orang dewasa.
Daftar Pustaka
Agustiani
Hendriati, Psikologi Perkembangan Pendekatan Ekologi Kaitannya
Dengan Konsep Diri dan Penyesuaian
Diri Pada Remaja, Bandung: Refika Aditama, 2009.
Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2010.
Surliti W, Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: PT
Bulan Bintang, 2003.
Rumini Sri , Sindari Siti, Perkembangan Anak dan Remaja, Jakarta:PT Asdi
Mahasatya, 2004.
Panuji Panut, Umami Ida, psikologi Remaja, Yogyakarta: PT Tiara
Wacana Yogya, 1999
Yusuf Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya,2008[1]
Zilkifli, Psikologi
Perkembangan, Bandung: PT Rosdakarya Offset, 2009.
Fatimah Enung, Psikologi perkembangan
(perkembangan peserta didik), Bandung: Pustaka Setia, 2010.
http://indahparas-uinbi-2.blogspot.com/2008/03/aspek-perkembangan-remaja.html.
[1] Sri Rumini,
Siti Sindari, Perkembangan Anak dan Remaja, (Jakarta:PT Asdi Mahasatya, 2004),
hlm. 53
[2] Panut Panuji,
Ida Umami, psikologi Remaja, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1999), hlm.
1-2
[3] Hendriati Agustiani, Psikologi
Perkembangan Pendekatan Ekologi Kaitannya Dengan Konsep Diri dan Penyesuaian
Diri Pada Remaja, (Bandung: Refika
Aditama, 2009), hlm. 29
[4] Syamsu Yusuf,
Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2008),
hlm.184
[5] Desmita,
Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hlm.190
[6] Surliti W,
Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2003), hlm. 34
[7]http://indahparas-uinbi-2.blogspot.com/2008/03/aspek-perkembangan-remaja.html
[8] Enung Fatimah, Psikologi perkembangan
(perkembangan peserta didik), (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 51
[19] Hendriati
Agustiani, hlm. 37-38
Tidak ada komentar:
Posting Komentar